2015/06/11

SAINS DAN TEKNOLOGI

sund dan trowbrige merumuskan bahwa sains merupahkan kumpulan pengetahuan dan proses sedangkan filsafat adalah Pemahaman komperhensif manusia terhadap Fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan mendasar yang mengantarkan manusia itu sendiri ketangga kebijaksanaan.

Revolusi industri Abad pertengahan tujuh belas sebagai fase Pemisahan Sains dari filsafat menggugah seorang Filsof analitik dari norwegia, arne naess, untuk menggagas “hijrah Intelektual” dalam artian mereview kembali pandangan kosmologi modernisasi Yang mengakibatkatkan krisis ekologi, matrealistis dan Radikal spiritual Keprinsip keseimbangan Alam berdasarkan prinsip kemanusian.

Jika Pandangan Kosmologi Modernisasi Tetap terus diterapkan maka dapatlah disimpulkan Bahwa Abad modren ini (Digital-IT) adalah abad keterpurukan peradaban manusia karna mengabaikan Nila-Nilai kehidupan untuk kepentingan Pribadi dan kelompok.

Berbeda dengan masa peradaban islam yang ditandai dengan Tokohnya seperti Ibnu Sina, Al-thusi, Al-Biruni dan sebagainya Diabad kelima Belas yang mengkombinasikan sains dan filsafat dengan baik sehingga melahirkan mindseat, etika, dan cita-cita mulai dalam mengembangkan tatanan kehidupan (Sosial, Politik, Hukum dan iLmu pengetahuan) yang berperadaban.

Bersamaan dengan itu,filsuf barat Nekat dan berinisiatif mengembangkan sains didunianya untuk kemajuan tanpa pegangan, Slef control (kontrol diri) yang akhirnya berimbas pada pelepasan Filsafat dari kesatuan organiknya yaitu sains. Modernisasi tanpa peradaban yang kita rasakan saat ini adalah Buah dari pemisahan sains dan filsafat oleh filsuf barat diabad lampau.

Menurut Dr. Haidir Bagir, pemikir Islam ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam Pemisahan Sainsdari Filsafat. Pertama Meminilisir sains dalam mengaktualisasikan Nilai Filsafat tersebut seperti Spritual dan Etika yang memberangkatkan pandangan dunia modren yang bersifat saintifik (ilmiah) ke santistik (Hanya berpusat pada sains). Tidak berhenti sampai disitu saja pemisahan sains dan filsafat juga merugikan filsafat itu sendiri. Pesat dan luasnya penerimaan sains modren tersebut mendorong fislafat menjadi sekuler tanpa batas, menabrak Nilai Moral dan ekologi.

Kedua Setelah terlepas/terpisah. Pada kenyataannya sains tidak benar-benar telepas dari filsafatnya yakni metafisika. Pergeseran metafisika yang bersifat ilahiyah kepada metafisika yang bersifat sekuler.

Ketiga kerugian sains dalam bidang epistemologis yaitu suatu ilmu filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Seperti yang dinyatakan capra dan oppenheimer, sains telah kehilangan daya intuitif yang sangat diandalkan pada masa klasik sebagai salahsatu alat mendapatkan ilmu pengetahuan selain alat indra.

Sebelum fonomena ini mengikis habis semua pemikiran masyarakat dunia modren dan menyeret Krisis berkepanjangan. Disinilah khzanah Timur/filsafat timur/filsafat islam mengambil perannya dalam mengembalikan peradaban dunia dalam bentuk “mata rantai kebaradaan’’yang dinamis dalam merumuskan pandangan dunia yang lebih integratif,holistik dan komperhensif.

Untuk melakukan semuanya haruslah dimulai dari pencerahan Hati dan akal melalui perbaikan akhlak, pemahaman spiritual, pendidikan serta menjaga hubungan harmonisasi antar manusia, kelompok dan Negara. Jika tiba saatnya sampailah manusia pada titik peradaban dunia yang sebenarnya. "muhmmad yunus"

No comments:

Post a Comment