
Transform
gravel become a diamond. sebuah catatan sederhana dibalik
bangku kelas yang kini menjadi visi abadi disebuah lembaga pendidikan yang
pernah penulis singgahi. Catatan yang
berarti Mengubah Krikil Menjadi Berlian. bermula dari pen correction yang ditulis dibalik bangku oleh seorang sahabat
yang merindukan perubahan.
Catatan sederhana tersebut
memiliki makna luas, gemilang dan konsisten. Mengapa tidak. Kerikil yang
mencerminkan kopongahan, kebodohan, kedengkilan
dan ketidakbaik-kan lainnya bermetamorfosis
menjadi sesuatu yang dikagumi orang lain, indah, bernilai dalam artian
bermanfaat.
Pertanyaannya.
Mungkinkah kerikil
dapat direkayasa agar bermetamorfosis
menjadi Berlian, bagaimana caranya, apa alat dan mengapa harus direkayasa.
Bukahkah kerikil juga bermanfaat dalam membentuk arstiktur bangunan. dan atau disisi
lain kerikil sudah sangat menyusahkan sehingga mesti segera direkayasa.
Kerikil sampai kapanpun
tidak akan bermetamorfosis menjadi
Berlian tapi kerikil bisa bernilai lebih dari sebelumnya apabila diasa,
dibentuk, dikreativitaskan sedemikian rupa seperti yang dilakukan oleh seniman
jepang yang mengelola kerikil-kerikil berserakan menjadi sebuah seni tiga dimensi yang bernilai tinggi dan tentu
harganya lebih besar dari sebelumnya.
Lantas
bagaimana dengan manusia?
Manusia memiliki
kesempatan yang lebih besar, bernilai, bermanfaat dari pada kesempatan kerikil
yang direkayasa menjadi berlian. tapi tetap saja tidak lebih bernilai dari
berlian walaunpun nilai kerikil dari sebelumnya signifikan.
disinilah kesadaran
diperlukan. bahwa manusialah makhluk yang paling sempurna dijagat raya dan yang
paling berpeluang disetiap kesempatan memperbaiki diri. Lebih dari itu manusia
yang semulanya dicerminkan sebagai kerikil yang berserakan. Pongah, bodoh,
menyusahkan, tidak bermanfaat bisa lebih mulia dari berlian-berlian seperti
ulama, guru, tokoh masyarakat yang telah bersinar. tidak demikian bagi kerikil.
Selanjutnya,
untuk mewujudkan semua itu dibutuhkan proses dan kesungguhan seperti kerikil
yang berharap menjadi berlian. mengubah manusia layaknya mengubah kerikil.
Dibutuhkan ketelatenan, jiwa seni, kesabaran, lapang dada bukan
memojokkan, apalagi dengan kekerasan.
Manusia makluk yang sensitif ajarkanlah
dengan hati maka perasaannya akan melunak, ajarkanlah dengan suritauladan maka
sikapnya akan mencerminkan kebaikan, ajarkanlah dengan ilmu yang didalamnya
bersemayam harapan untuk mencerdaskan. maka lambatlaun prestasinya akan
menunjukan kesyukuran.
Sebagai penutup.
Merekayasa manusia menjadi lebih baik, bermanfaat, mulia. bukanlah karna kita resah dengan tingkahlaku manusia yang menjad-jadi melainkan sudah menjadi
tanggungjawab bersama untuk memakmurkan bumi agar lebih tampak berkilau dari
atas langit.
No comments:
Post a Comment