2015/08/19

Mengubah Krikil Menjadi Berlian



Transform gravel become a diamond. sebuah catatan sederhana dibalik bangku kelas yang kini menjadi visi abadi disebuah lembaga pendidikan yang pernah penulis singgahi. Catatan yang berarti  Mengubah Krikil Menjadi Berlian. bermula dari pen correction yang ditulis dibalik bangku oleh seorang sahabat yang merindukan perubahan.

Catatan sederhana tersebut memiliki makna luas, gemilang dan konsisten. Mengapa tidak. Kerikil yang mencerminkan kopongahan,  kebodohan, kedengkilan dan ketidakbaik-kan lainnya bermetamorfosis menjadi sesuatu yang dikagumi orang lain, indah, bernilai dalam artian bermanfaat.

Pertanyaannya.

Mungkinkah kerikil dapat direkayasa agar bermetamorfosis menjadi Berlian, bagaimana caranya, apa alat dan mengapa harus direkayasa. Bukahkah kerikil juga bermanfaat dalam membentuk arstiktur bangunan. dan atau disisi lain kerikil sudah sangat menyusahkan sehingga mesti segera direkayasa.

Kerikil sampai kapanpun tidak akan bermetamorfosis menjadi Berlian tapi kerikil bisa bernilai lebih dari sebelumnya apabila diasa, dibentuk, dikreativitaskan sedemikian rupa seperti yang dilakukan oleh seniman jepang yang mengelola kerikil-kerikil berserakan menjadi sebuah seni tiga dimensi yang bernilai tinggi dan tentu harganya lebih besar dari sebelumnya.

Lantas bagaimana dengan manusia?

Manusia memiliki kesempatan yang lebih besar, bernilai, bermanfaat dari pada kesempatan kerikil yang direkayasa menjadi berlian. tapi tetap saja tidak lebih bernilai dari berlian walaunpun nilai kerikil dari sebelumnya signifikan.

disinilah kesadaran diperlukan. bahwa manusialah makhluk yang paling sempurna dijagat raya dan yang paling berpeluang disetiap kesempatan memperbaiki diri. Lebih dari itu manusia yang semulanya dicerminkan sebagai kerikil yang berserakan. Pongah, bodoh, menyusahkan, tidak bermanfaat bisa lebih mulia dari berlian-berlian seperti ulama, guru, tokoh masyarakat yang telah bersinar. tidak demikian bagi kerikil.

Selanjutnya, untuk mewujudkan semua itu dibutuhkan proses dan kesungguhan seperti kerikil yang berharap menjadi berlian. mengubah manusia layaknya mengubah kerikil. Dibutuhkan ketelatenan, jiwa seni, kesabaran, lapang dada bukan memojokkan,  apalagi dengan kekerasan. Manusia makluk yang sensitif ajarkanlah dengan hati maka perasaannya akan melunak, ajarkanlah dengan suritauladan maka sikapnya akan mencerminkan kebaikan, ajarkanlah dengan ilmu yang didalamnya bersemayam harapan untuk mencerdaskan. maka lambatlaun prestasinya akan menunjukan kesyukuran.

Sebagai penutup. Merekayasa manusia menjadi lebih baik, bermanfaat, mulia. bukanlah karna kita resah dengan tingkahlaku manusia yang menjad-jadi melainkan sudah menjadi tanggungjawab bersama untuk memakmurkan bumi agar lebih tampak berkilau dari atas langit.

No comments:

Post a Comment