2015/06/11

MANUSIA TERIAK MANUSIA






Tidak mungkin Ilalang yang tumbuh, bila padi yang ditanam. Pasti ada pihak yang membunuh padi atau menggantinya dengan ilalang. Mustahil padi berganti dengan ilalang bila tidak ada hama yang membunuhnya. Hamalah yang membunuh padi, lalu ilalang yang menggantinya. Maka, Apa atau siapakah hama itu.

Dalam tulisannya dimedia cetak, Alaidin Koto, Guru Besar Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Uin Suska Riau. Menggugah kerisauan yang berkeliaran ditengah Masyarakat. Media yang tidak sehat, mengumbar-ngumbar Aib, Mempertontokan Keburukan dan Ketidaklayakan Dihujami Cibirin oleh Masyarakat sampai pesimistis mengjangkiti masyarakat itu sendiri terhadap keberlangsungan Negeri ini.

Media disalahkah, Media dicaci Maki, Media Diprotes dan atau Diresistensikan. Singkat, mediakah yang salah atau manusia itu sendirikah yang menyelewengkan peran media yang sesungguhnya. Bukankah media Alat, manusialah yang mengoperasikan. Tidak mungkin Media menciptakan keributan, kegaduhan dan keburukan. Manusialah yang melakukannya.

Dan tak sedikit manusia berpacu membuat dan memanfaatkannya. Baik untuk kepentingan Pribadi, kelompok, syahwat kekuasaan, pencitraan dan sebagainya. Tidak peduli yang Benar disalahkan, yang salah dibenarkan. Yang baik bersalah. Yang salah menjadi baik. Sehingga sampailah manusia padi titik terendahnya dalam Artian darurat kemanusian.

Lantas mengapa darurat kemanusian dapat terjadi, siapa manusianya. Bukankah agamawan, Budayawan, sejarawan, aktor politik, pemerintah, para pemimpin, para tokoh juga manusia. Bangunan Agama tumbuh subur bak jamur, gedung-gedung pendidikan, swadaya masyarakat ada dan dapat ditemukan dimana-mana. Miris melihat pertumbuhan lokus kemanusian tidak berakselerasi dengan pertumbuhan kemanusian itu sendiri (moralitas).

Lebih-Lebih miris, tersiar kabar. Pemimpin Agama Bermaksiat dirumah tuhan, Kepala sekolah Bersikap Amoral didepan peserta Didik. Pemerintah penyelewekan tugasnya didepan rakyat, Tokoh masyarakat Mengais rezki dari keringat dan tanah khulayak yang seyogyanya milik masyarakat. Lalu masih adakah manusia yang Mengedepankan kepentingan bersama, Bersikap sesuai tutur katanya, bertindak berdasarkan kemaslatan. Jika ada siapa dia dan dimana dia.

Masyarakat mencarinya, masyarakat membutuhkannya sebagai tempat mengadu, suritauladan, tempat berbagi. Siapa dia, dimana dia ujar masyarakat yang saat ini berada didunia yang dilanda darurat kemanusian. Masyarakat menuntut, menghardik, mengamini tanpa disadari dia juga manusia. Dan sebenarnya darurut kemanusian itu berasal dari tingkah laku masyarakat itu sendiri.

Sudah, cukup. Jangan salahkan lagi padi ditanam, ilalang yang tumbuh, media yang dibuat kerisauan yang didapat. Manusia yang dididik manusia yang dirusak. karna manusialah yang menanam, menuai dan manusia itu sendirilah yang menjadi Hama dan merusaknya. Pantaslah disebut manusia teriak manusia. Muhammad yunus

No comments:

Post a Comment