2016/05/17

Antara tembok Berlin Peru, Abraham Maslow dan Kekinian


Di Peru Daily Mail, Amerika Latin. Ada sebuah tembok sepanjang sepuluh km dengan tinggi lebih dari empat meter serta dilengkapi dengan kawat berduri. Layaknya Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Timur dan Jerman Barat. Tembok Berlin Peru juga memisakan sebuah wilayah. Bedanya, Tembok Berlin Jerman dibangun sebagai Anti-Fasis seperti klaim Jerman Timur. Sedangkan Tembok Berlin Peru dibangun sebagai pemisah kaum miskin di kawasan Vista Hermosa dengan kawasan Las Casuarinas yang didiami orang kaya.

Gedung, rumah dan fasilitas di kawasan Las Casuarinas serba mewah dan bernilai Jutaan dollar. Kawasan ini ditempati oleh konglomerat, birokrat dan sebagainya yang memiliki pendapatan diatas rata-rata. sedangkan dikawasan sebelahnya, Vista Hermosa. ditempati oleh kaum buruh dan petani. tempatnya kumuh dan gersang. Sangat berbeda dengan wilayah yang berada di sebelahnya. padahal mereka berada dalam satu kota dan satu wilayah negara yaitu peru. seperti itulah lanskap kehidupan disalahsatu negara Amerika Latin tersebut.

Bergeser sedikit. Abraham Maslow, pelopor psikologi Humanistik dari Amerika Serikat pernah mengemukan sebuah teori yang kini dikenal sebagai teori Hierarki Maslow. Teori yang juga penulis pelajari dijurusan Manajemen, Konsentrasi Sumber daya manusia ini. memiliki lima tahapan kebutuhan manusia yang terdiri-dari physiological, Sefety, Social, Esteem dan Self Actualisation sebagai tahapan kebutuhan manusia yang tertinggi.

Physiological sebagai kebutuhan pertama manusia adalah sebuah kebutuhan fisik seperti kebutuhan makan, sex dan seterusnya. Namun seiring kebutuhan dan perkembangan zaman. Tangga Hierarki Maslow mulai tidak relevan. Karna ada beberapa posisi sudah mulai tertukar seperti kebutuhan sosial yang sebelumnya menempati posisi ketiga berpindah keposisi pertama, menggantikan posisi Physiological.

Itu semua dapat ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti Gandget. Bisa dikatakan saat ini semua orang sudah memiliki Gadget atau Android dengan berbagai fitur aplikasi media sosial. sebut saja BBM, Line, instagram, BeeTalk, Facebook, Twiter dan sebagainya yang dengan itu semua mereka dapat mencurahkan apa yang diinginkan, diperbuat dan sedang dilakukan.

Sebagai contoh seseorang ingin makan. mereka mengambil momentnya dulu, memotrek makanan yang ada dihadapanya untuk kemudian meng-uploand kemedia sosial pribadi yang dinikmati publik. Mereka tidak lagi memenuhi kebutuhan Physiologicalnya untuk makan terlebih dahulu tetapi mereka ingin mengabadikan apa yang sedang dan akan yang dilakukannya. Itulah yang disebut dengan kebutuhan sosial. kebutuhan yang menuntut seseorang untuk menunjukan bahwa diri nya ada. layak diperhatikan, ingin disayang, ingin mendapatkan tanggapan dan sebagainya.

Namun apabila itu semua berlanjut pada suatu sikap meyakini segala sesuatu yang eksis dimedia sosial mesti di tiru dan dilakukan. maka itulah yang disebut dengan kekinian. Kekinian itu melebihi kebutuhan sosial yang sewajarnya. Itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa seseorang yang kekinian itu terindikasi ganguan psikologis.

Kalau itu semua ada pada diri kita, bangunlah tembok seperti yang ada di peru yang memisahkan antara yang kaya dan yang miskin. Tapi tembok yang dibangun pada diri kita bukanlah untuk memishakan status sosial seseorang karna selain dikenal sebagai tembok berlin peru, tembok tersebut juga dikenal sebagai, wall of shame, Dinding rasa malu.

Bangunlah dinding rasa malu itu agar kita melakukan suatu kebutuhan sosial dengan sewajarnya. Tidak berlebihan, apalagi sok narsis terus menerus.

No comments:

Post a Comment