Boleh saja mengatakan saya tidak
peduli dengan politik, saya benci dan saya tidak suka dengan politik.
dalam politik selalu ada trik dan intrik. Politik selalu melahirkan
konflik, perpecahan dan permusuhan. Politik tidak memberikan harapan
melainkan dusta dan janji-janji. Bahkan seorang politisi berani
mengatakan akan membangun sebuah jembatan di sebuah perkampungan
meskipun dikampung tersebut tidak ada sungai. lalu berkilah,
sungai-sungainya akan saya bangun sekalian. Seperti itulah kira-kira jika seorang politisi sedang berkampanye.
Tidak peduli, tidak suka dan benci dengan politik silakan saja. tapi
jika harga-harga barang naik, sayur dan harga lauk pauk naik jangan
sumpah serapah. Mengatakan ini, itu. tidak beres, tidak becus dan
sebagainya. jangan, jangan sekali-kali berkata seperti itu.
Lowongan pekerjaan sulit, jalanan macet, banjir dimana-mana jangan bersumpah serapah. Berhentilah mengatakan saya tidak peduli dengan politik, tidak suka dan benci. Politik itu berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Hidupku dan juga hidup mu. Berhentilah Apatis, bukan karna dinegeri ini banyak orang-orang jahat melainkan orang-orang baik lebih memilih diam dan mendiamkan.
Kata David Easton, Politik itu sarana dan area untuk mengalokasikan nilai. Kata Mohammad Natsir, politik itu adalah alat untuk mencapai tujuan (Keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan). Politik memang ditasirkan beragam tetapi orientasi politik tetaplah pada perubahan meskipun dalam perjalanannya penuh intrik kata Anis Mata.
Sering kali kita mendengarkan pernyataan tentang politik yang berkonotasi negatif. Dipasar, kedai kopi, pendopo-pendopo dan sebagainya. tidak masalah karna memang elit politik kita mencerminkan seperti itu. suka berjanji, menebarkan kebencian diantara kompetitor, saling mencaci, mementingkan kepentingan pribadi, kelompok dari pada kepentingan umum. seperti itulah keadaan elit politik saat ini. memanfaatkan politik untuk memenuhi hawa nafsu. sangat berbeda dengan hakikat politik itu sendiri.
Namun apa jadinya jika konotasi politik itu terdengar dikalangan mahasiswa dan merekapun mengatakan tidak peduli, tidak suka dan benci tetapi mereka bersumpah serampah layaknya masyarakat biasa. Semuanya naik. Harga kertas, fhoto copy, pulpen, spp, kos-kosan, ampera. Semuanya naik, tidak ada yang tetap apalagi turun. Memanglah pemimpin negeri ini tidak becus mengelola negeri ini.
(BERSAMBUNG)
Lowongan pekerjaan sulit, jalanan macet, banjir dimana-mana jangan bersumpah serapah. Berhentilah mengatakan saya tidak peduli dengan politik, tidak suka dan benci. Politik itu berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Hidupku dan juga hidup mu. Berhentilah Apatis, bukan karna dinegeri ini banyak orang-orang jahat melainkan orang-orang baik lebih memilih diam dan mendiamkan.
Kata David Easton, Politik itu sarana dan area untuk mengalokasikan nilai. Kata Mohammad Natsir, politik itu adalah alat untuk mencapai tujuan (Keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan). Politik memang ditasirkan beragam tetapi orientasi politik tetaplah pada perubahan meskipun dalam perjalanannya penuh intrik kata Anis Mata.
Sering kali kita mendengarkan pernyataan tentang politik yang berkonotasi negatif. Dipasar, kedai kopi, pendopo-pendopo dan sebagainya. tidak masalah karna memang elit politik kita mencerminkan seperti itu. suka berjanji, menebarkan kebencian diantara kompetitor, saling mencaci, mementingkan kepentingan pribadi, kelompok dari pada kepentingan umum. seperti itulah keadaan elit politik saat ini. memanfaatkan politik untuk memenuhi hawa nafsu. sangat berbeda dengan hakikat politik itu sendiri.
Namun apa jadinya jika konotasi politik itu terdengar dikalangan mahasiswa dan merekapun mengatakan tidak peduli, tidak suka dan benci tetapi mereka bersumpah serampah layaknya masyarakat biasa. Semuanya naik. Harga kertas, fhoto copy, pulpen, spp, kos-kosan, ampera. Semuanya naik, tidak ada yang tetap apalagi turun. Memanglah pemimpin negeri ini tidak becus mengelola negeri ini.
(BERSAMBUNG)

No comments:
Post a Comment